Pentingnya Kelola Stres di Masa Pandemi COVID-19
Kondisi pada masa pandemi COVID-19 ini menyebabkan sebagian orang merasa
khawatir, tertekan atau takut yang berlebihan dan berpikir yang tidak masuk
akal. Covid-19 ini merupakan penyakit virus corona yang ditemukan pada tahun
2019 dan dilaporkan ke WHO. Covid-19 telah menyebar ke berbagai negara di dunia,
termasuk Indonesia. Merebaknya wabah ini pun meningkatkan jumlah kasus positif
terjangkit Covid-19. Akibatnya, di seluruh dunia termasuk Indonesia mengalami
dampak krisis kesehatan dan ekonomi. Sehingga keadaan demikian membuat seseorang
mengalami kesulitan tidur, sakit kepala atau sering pusing, dan gangguan fisik
lainnya. Maka, inilah yang disebut dengan kondisi stres. Pada masa pandemic
covid kondisi stress dapat diklasifikasikan menjadi 3 ruang lingkup: stress
akademik yang biasa dialami oleh siswa/mahasiswa, stress kerja, dan stress dalam
keluarga. Ruang lingkup yang terakhir sangat potensial dialami oleh ibu rumah
tangga, karena kebijakan WFH (Work From Home) yang membuat ibu rumah tangga
mendadak harus mendampingi putra putrinya belajar di rumah dengan segala
persoalannya. Maka dari itu sebelum mengetahui bagamaina cara mengelola stres,
kita harus tahu terlebih dahulu apa itu sebenarnya tentang stres, dan apa saja
tanda-tanda stres yang sering muncul kepada kita. Berikut penjelasannya di bawah
ini.
Apa itu Stres dalam Kajian Teoritis?
Istilah stres berasal dari bahasa Inggris Stress. Menurut Kamus Oxford stress
diartikan dengan pressure or worry caused by the problems in somebody’s life,
yaitu tekanan atau kekhawatiran yang disebabkan oleh masalah dalam hidup
seseorang. (https://www.oxfordlearnersdictionaries.com). Menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia stress diartikan dengan gangguan atau kekacauan mental dan
emosional yang disebabkan oleh faktor luar; ketegangan. (KBBI
https://kbbi.web.id/stres)
Menurut WHO Sehat mental diartikan sebagai kondisi
individu yang berada dalam keadaan sejahtera, mampu mengenal potensi dirinya,
mampu menghadapi tekanan sehari-hari, dan mampu berkontribusi di lingkungan
sosialnya (WHO, 2015).
Dan para ahli juga mendefinisikan stress dengan redaksi
yang berbeda-beda. Robbins (2001) menyatakan bahwa stres merupakan suatu kondisi
yang menekan keadaan psikis seseorang dalam mencapai sesuatu kesempatan di mana
untuk mencapai kesempatan tersebut terdapat batasan atau penghalang. Weinberg
dan Gould (2003) mendefinisikan stres sebagai “a substantial imbalance between
demand (physical and psychological) and response capability, under condition
where failure to meet that demand has importance concequences”. Artinya, ada
ketidakseimbangan antara tuntutan (fisik dan psikis) dan kemampuan memenuhinya.
Gagal dalam memenuhi kebutuhan tersebut akan berdampak krusial.
Dari paparan di
atas dapat disimpulkan bahwa stres adalah suatu kondisi individu yang berada
dalam keadaan sejahtera yang mampu menghadapi suatu tekanan dalam kehidupan
sehari-hari dan mampu berkontribusi di lingkungan sosialnya.
Apa Saja Ruang Lingkup Stress di Masa Pandemi Covid-19?
1. Stress Akademik
Stress akademik merupakan suatu keadaan atau kondisi berupa gangguan fisik,
mental atau emosional yang disebabkan ketidaksesuian antara tuntutan lingkungan
dengan sumber daya aktual yang dimiliki siswa sehingga mereka semakin terbebani
dengan berbagai tekanan dan tuntutan di sekolah. Masalah yang dihadapi
siswa/mahasiswa ada masa pandemi Covid-19 ini selain tuntutan-tuntutan yang
dibebankan dengan model belajar mengajar secara daring. Proses belajar
menggunakan media online lebih melelahkan dan membosankan, karena mereka tidak
dapat berinteraksi langsung baik dengan guru maupun teman lainnya. Dengan
demikian mengakibatkan frustrasi bagi siswa/mahasiswa, dan bila terus berlanjut
dapat menimbulkan stress.
2. Stress Kerja
Di masa pandemi Covid-19 ini diterapkan social distancing dan pekerja
beraktivitas dari rumah (WFH). Semua kantor dan tempat usaha tutup.
Pabrik-pabrik juga ikut tutup. Bagi pekerja yang dapat beraktivitas di rumah
tidak menjadi masalah yang berarti. Akan tetapi bagi pekerja di bidang jasa dan
produksi yang mengharuskan di lokasi tempat kerja akan menimbulkan masalah.
Tidak adanya kepastian kapan masa pandemi covid ini berakhir menimbulkan
ketidakpastian bagi para pengusaha dan para pekerja. Inilah yang dapat
menimbulkan stress kerja di masa pandemi Covid-19.
3. Stress dalam Keluarga
“Ibu Rumah Tangga Berpotensi Alami Stress Saat Pandemi Covid-19”, demikian
berita yang ada di sosial media. (ayosemarang.com/read/). Kondisi demikian
sangat mungkin terjadi mengingat budaya patriarki yang masih dominan dalam
masyarakat Indonesia. Mengurus rumah tangga adalah pekerjaan ibu rumah tangga,
yang secara formal tertulis pada KTP seorang ibu rumah tangga.
Stress dalam
keluarga bisa dialami oleh anak yang bosan dengan model pembelajaran secara
online, tanpa dapat bermain dan berinteraksi dengan temannya. Demikian juga
dengan suami sebagai kepala keluarga yang harus bekerja dari rumah atau bahkan
tidak bekerja, menganggur di rumah, berdampak pada penurunan produktivitas dan
pemasukan, dapat pula memicu stress dalam keluarga.
Dengan demikian, stress
dalam keluarga merupakan akumulasi dari stress akademik yang dialami anak,
stress kerja yang dialami orang tua (ayah atau ibu), diperburuk dengan kondisi
keluarga yang kurang harmonis, semakin memperkuat potensi stress dalam keluarga.
Stress memang tidak dapat dihindari, akan tetapi dapat diminalisir dengan
bertindak positif. Oleh sebab itu dibutuhkan manajemen stress yang komprehensif
dan holistik.
Apa saja gejalanya?
Sebelum mengelola stress perlu diketahui terlebih dahulu gejala-gejala Stress
pada masa Pandemi Covid-19. Di antara tanda-tandanya antara lain:
1. Ketakutan
dan kecemasan mengenai kesehatan diri maupun kesehatan orang lain yang
disayangi.
2. Memiliki pikiran negatif terhadap orang yang memiliki tanda-tanda
penderita
3. Perubahan pola tidur dan atau pola makan 4. Sulit tidur dan
konsentrasi
5. Memperparah kondisi fisik seseorang yang memang memiliki riwayat
penyakit kronis
Bagaimana Cara Mengelola Stress di Masa Pandemi Covid-19?
Mengelola atau manajemen stres sangatlah penting di masa pandemi Covid-19.
Manajemen stres dapat diartikan sebagai tindakan untuk mengendalikan, mengelola,
mengatur stres. Stres sendiri dapat diartikan sebagai reaksi tubuh baik secara
psikis maupun fisik karena adanya tekanan ataupun ketegangan dari luar. Disaat
pandemi ini yang menjadi sumber stres (stressor) adalah berita mengenai Covid-19
dan pembatasan sosial yang dilakukan oleh pemerintah yang berdampak negatif bagi
masyarakat. Stres memang tidak dapat kita hindari, melainkan bagaimana seseorang
dapat meminimalisir stres tersebut sehingga masih dapat bertindak positif. Salah
satu caranya supaya kita bisa mengelola stres di masa pandemi covid-19 ini kita
bisa melakukan Self-Healing.
Self-healing dapat diartikan sebagai sebuah proses
penyembuhan luka batin atau mental yang dapat diakibatkan oleh berbagai macam
hal. Luka batin tersebut bisa seperti kesedihan yang tidak berujung, merasa
gagal, cemas, hingga mengantarkan pada stres. Untuk mengatasi rasa menyalahkan
diri sendiri dan luka batin yang kita rasakan selama pandemi covid-19 ini,
berikut ada beberapa tips yang dapat dilakukan sebagai upaya self-healing:
1. Mindfullness
Mindfulness adalah suatu kondisi di mana pikiran, perasaan, dan tubuh kita
berada pada saat ini, tidak mengembara kemasa lalu maupun masa depan, serta
non-judgemental (Kabat-Zinn, 1990). Dan bertujuan untuk melatih kesabaran,
keheningan batin, dan kesimbangan pikiran, sehingga stres dan kecemasan akan
menurun. (panduan https://bit.ly/MindfulPKKM). Berikut videonya di bawah ini :
Pejamkan mata, lalu bayangkan sesuatu yang menyenangkan, dengan berbagai
modalitas seperti visual, auditori, dan kinestetik untuk membantu meningkatkan
imajinasi. Meskipun kenyamanan ini bersifat jangka pendek, namun Guided Imagery
bisa menjadi pertolongan pertama psikologis dalam menanggulangi kecemasan
berlebih.
3. Self-Talk
Bicaralah kepada diri sendiri dengan kalimat positif. Perlu diketahui bahwa
emosi cenderung dipengaruhi oleh pikiran kita, yang mana pikiran kita sangat
tergantung dari bagaimana kita menafsirkan suatu peristiwa. Penting untuk kita
memperbaiki kembali apa yang menjadi isi pikiran, karena pikiran yang positif
akan meningkatkan kualitas emosi dan perasaan.
4. Expressive Writing
Refleksikan pikiran dan perasaan yang kita alami selama masa pandemi ke dalam
bentuk tulisan.
Semoga tips dari self-healing ini dapat bermanfaat bagi kita
semua untuk di terapkan dimasa pandemi covid-19 dan kita tetap selalu menjaga
kesehatan dan kebersihan pada diri kita sendiri. Maka dari itu dapat di tarik
kesimpulan bahwa stress yang ada harus dikelola dengan baik, agar tidak menjadi
distress, akan tetapi bisa menjadi eustress. Sebagian stress yang muncul
diakibatkan dengan adanya berita atau informasi yang tidak dapat
dipertanggungjawabkan dengan baik, malah membuat kegelisahan dan ketakutan pada
masyarakat. Dan oleh sebab itu kita perlu memilih dan memilah informasi dengan
cermat dan baik. 😍😍
Sumber Referensi :
http://awalbros.com/kejiwaan/manajemen-stres-di-masa-pandemi-covid-19/
https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20200330110138-284-488185/pentingnya-kelola-stres-saat-hadapi-wabah-corona
https://psikologi.unair.ac.id/wp-content/uploads/2020/05/01-Tetap-Sehat-Mental-selama-Masa-Pandemi-COVID-19.pdf
Muslim, M. (2020). Manajemen Stres Pada Masa Pandemi Covid-19. ESENSI: Jurnal
Manajemen Bisnis,23.
Livana PH, M. F. (2020). Tugas Pembelajaran” Penyebab
Stres Mahasiswa Selama Pandemi COVID- 19.Jurnal Ilmu Keperawatan Jiwa, 203-208.


