Kamis, 10 September 2020

Posted by Wulan Daniah on September 10, 2020 with No comments
Pentingnya Kelola Stres di Masa Pandemi COVID-19
Kondisi pada masa pandemi COVID-19 ini menyebabkan sebagian orang merasa khawatir, tertekan atau takut yang berlebihan dan berpikir yang tidak masuk akal. Covid-19 ini merupakan penyakit virus corona yang ditemukan pada tahun 2019 dan dilaporkan ke WHO. Covid-19 telah menyebar ke berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia. Merebaknya wabah ini pun meningkatkan jumlah kasus positif terjangkit Covid-19. Akibatnya, di seluruh dunia termasuk Indonesia mengalami dampak krisis kesehatan dan ekonomi. Sehingga keadaan demikian membuat seseorang mengalami kesulitan tidur, sakit kepala atau sering pusing, dan gangguan fisik lainnya. Maka, inilah yang disebut dengan kondisi stres. Pada masa pandemic covid kondisi stress dapat diklasifikasikan menjadi 3 ruang lingkup: stress akademik yang biasa dialami oleh siswa/mahasiswa, stress kerja, dan stress dalam keluarga. Ruang lingkup yang terakhir sangat potensial dialami oleh ibu rumah tangga, karena kebijakan WFH (Work From Home) yang membuat ibu rumah tangga mendadak harus mendampingi putra putrinya belajar di rumah dengan segala persoalannya. Maka dari itu sebelum mengetahui bagamaina cara mengelola stres, kita harus tahu terlebih dahulu apa itu sebenarnya tentang stres, dan apa saja tanda-tanda stres yang sering muncul kepada kita. Berikut penjelasannya di bawah ini. 

  Apa itu Stres dalam Kajian Teoritis? 

Istilah stres berasal dari bahasa Inggris Stress. Menurut Kamus Oxford stress diartikan dengan pressure or worry caused by the problems in somebody’s life, yaitu tekanan atau kekhawatiran yang disebabkan oleh masalah dalam hidup seseorang. (https://www.oxfordlearnersdictionaries.com). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia stress diartikan dengan gangguan atau kekacauan mental dan emosional yang disebabkan oleh faktor luar; ketegangan. (KBBI https://kbbi.web.id/stres) 
         Menurut WHO Sehat mental diartikan sebagai kondisi individu yang berada dalam keadaan sejahtera, mampu mengenal potensi dirinya, mampu menghadapi tekanan sehari-hari, dan mampu berkontribusi di lingkungan sosialnya (WHO, 2015). 
        Dan para ahli juga mendefinisikan stress dengan redaksi yang berbeda-beda. Robbins (2001) menyatakan bahwa stres merupakan suatu kondisi yang menekan keadaan psikis seseorang dalam mencapai sesuatu kesempatan di mana untuk mencapai kesempatan tersebut terdapat batasan atau penghalang. Weinberg dan Gould (2003) mendefinisikan stres sebagai “a substantial imbalance between demand (physical and psychological) and response capability, under condition where failure to meet that demand has importance concequences”. Artinya, ada ketidakseimbangan antara tuntutan (fisik dan psikis) dan kemampuan memenuhinya. Gagal dalam memenuhi kebutuhan tersebut akan berdampak krusial. 
      Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa stres adalah suatu kondisi individu yang berada dalam keadaan sejahtera yang mampu menghadapi suatu tekanan dalam kehidupan sehari-hari dan mampu berkontribusi di lingkungan sosialnya.

Apa Saja Ruang Lingkup Stress di Masa Pandemi Covid-19?

1. Stress Akademik 
Stress akademik merupakan suatu keadaan atau kondisi berupa gangguan fisik, mental atau emosional yang disebabkan ketidaksesuian antara tuntutan lingkungan dengan sumber daya aktual yang dimiliki siswa sehingga mereka semakin terbebani dengan berbagai tekanan dan tuntutan di sekolah. Masalah yang dihadapi siswa/mahasiswa ada masa pandemi Covid-19 ini selain tuntutan-tuntutan yang dibebankan dengan model belajar mengajar secara daring. Proses belajar menggunakan media online lebih melelahkan dan membosankan, karena mereka tidak dapat berinteraksi langsung baik dengan guru maupun teman lainnya. Dengan demikian mengakibatkan frustrasi bagi siswa/mahasiswa, dan bila terus berlanjut dapat menimbulkan stress. 

  2. Stress Kerja 
Di masa pandemi Covid-19 ini diterapkan social distancing dan pekerja beraktivitas dari rumah (WFH). Semua kantor dan tempat usaha tutup. Pabrik-pabrik juga ikut tutup. Bagi pekerja yang dapat beraktivitas di rumah tidak menjadi masalah yang berarti. Akan tetapi bagi pekerja di bidang jasa dan produksi yang mengharuskan di lokasi tempat kerja akan menimbulkan masalah. Tidak adanya kepastian kapan masa pandemi covid ini berakhir menimbulkan ketidakpastian bagi para pengusaha dan para pekerja. Inilah yang dapat menimbulkan stress kerja di masa pandemi Covid-19.

  3. Stress dalam Keluarga 
“Ibu Rumah Tangga Berpotensi Alami Stress Saat Pandemi Covid-19”, demikian berita yang ada di sosial media. (ayosemarang.com/read/). Kondisi demikian sangat mungkin terjadi mengingat budaya patriarki yang masih dominan dalam masyarakat Indonesia. Mengurus rumah tangga adalah pekerjaan ibu rumah tangga, yang secara formal tertulis pada KTP seorang ibu rumah tangga.
       Stress dalam keluarga bisa dialami oleh anak yang bosan dengan model pembelajaran secara online, tanpa dapat bermain dan berinteraksi dengan temannya. Demikian juga dengan suami sebagai kepala keluarga yang harus bekerja dari rumah atau bahkan tidak bekerja, menganggur di rumah, berdampak pada penurunan produktivitas dan pemasukan, dapat pula memicu stress dalam keluarga.              
        Dengan demikian, stress dalam keluarga merupakan akumulasi dari stress akademik yang dialami anak, stress kerja yang dialami orang tua (ayah atau ibu), diperburuk dengan kondisi keluarga yang kurang harmonis, semakin memperkuat potensi stress dalam keluarga. Stress memang tidak dapat dihindari, akan tetapi dapat diminalisir dengan bertindak positif. Oleh sebab itu dibutuhkan manajemen stress yang komprehensif dan holistik. 

Apa saja gejalanya? 
Sebelum mengelola stress perlu diketahui terlebih dahulu gejala-gejala Stress pada masa Pandemi Covid-19. Di antara tanda-tandanya antara lain:
1. Ketakutan dan kecemasan mengenai kesehatan diri maupun kesehatan orang lain yang disayangi. 
2. Memiliki pikiran negatif terhadap orang yang memiliki tanda-tanda penderita 
3. Perubahan pola tidur dan atau pola makan 4. Sulit tidur dan konsentrasi 
5. Memperparah kondisi fisik seseorang yang memang memiliki riwayat penyakit kronis 


Bagaimana Cara Mengelola Stress di Masa Pandemi Covid-19?
Mengelola atau manajemen stres sangatlah penting di masa pandemi Covid-19. Manajemen stres dapat diartikan sebagai tindakan untuk mengendalikan, mengelola, mengatur stres. Stres sendiri dapat diartikan sebagai reaksi tubuh baik secara psikis maupun fisik karena adanya tekanan ataupun ketegangan dari luar. Disaat pandemi ini yang menjadi sumber stres (stressor) adalah berita mengenai Covid-19 dan pembatasan sosial yang dilakukan oleh pemerintah yang berdampak negatif bagi masyarakat. Stres memang tidak dapat kita hindari, melainkan bagaimana seseorang dapat meminimalisir stres tersebut sehingga masih dapat bertindak positif. Salah satu caranya supaya kita bisa mengelola stres di masa pandemi covid-19 ini kita bisa melakukan Self-Healing. 
        Self-healing dapat diartikan sebagai sebuah proses penyembuhan luka batin atau mental yang dapat diakibatkan oleh berbagai macam hal. Luka batin tersebut bisa seperti kesedihan yang tidak berujung, merasa gagal, cemas, hingga mengantarkan pada stres. Untuk mengatasi rasa menyalahkan diri sendiri dan luka batin yang kita rasakan selama pandemi covid-19 ini, berikut ada beberapa tips yang dapat dilakukan sebagai upaya self-healing: 

  1. Mindfullness 
Mindfulness adalah suatu kondisi di mana pikiran, perasaan, dan tubuh kita berada pada saat ini, tidak mengembara kemasa lalu maupun masa depan, serta non-judgemental (Kabat-Zinn, 1990). Dan bertujuan untuk melatih kesabaran, keheningan batin, dan kesimbangan pikiran, sehingga stres dan kecemasan akan menurun. (panduan https://bit.ly/MindfulPKKM). Berikut videonya di bawah ini :

 

2. Guided Imagery 
Pejamkan mata, lalu bayangkan sesuatu yang menyenangkan, dengan berbagai modalitas seperti visual, auditori, dan kinestetik untuk membantu meningkatkan imajinasi. Meskipun kenyamanan ini bersifat jangka pendek, namun Guided Imagery bisa menjadi pertolongan pertama psikologis dalam menanggulangi kecemasan berlebih. 

  3. Self-Talk 
Bicaralah kepada diri sendiri dengan kalimat positif. Perlu diketahui bahwa emosi cenderung dipengaruhi oleh pikiran kita, yang mana pikiran kita sangat tergantung dari bagaimana kita menafsirkan suatu peristiwa. Penting untuk kita memperbaiki kembali apa yang menjadi isi pikiran, karena pikiran yang positif akan meningkatkan kualitas emosi dan perasaan. 

 4. Expressive Writing 
 Refleksikan pikiran dan perasaan yang kita alami selama masa pandemi ke dalam bentuk tulisan. 

     Semoga tips dari self-healing ini dapat bermanfaat bagi kita semua untuk di terapkan dimasa pandemi covid-19 dan kita tetap selalu menjaga kesehatan dan kebersihan pada diri kita sendiri.  Maka dari itu dapat di tarik kesimpulan bahwa stress yang ada harus dikelola dengan baik, agar tidak menjadi distress, akan tetapi bisa menjadi eustress. Sebagian stress yang muncul diakibatkan dengan adanya berita atau informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dengan baik, malah membuat kegelisahan dan ketakutan pada masyarakat. Dan oleh sebab itu kita perlu memilih dan memilah informasi dengan cermat dan baik. 😍😍

Sumber Referensi : 
http://awalbros.com/kejiwaan/manajemen-stres-di-masa-pandemi-covid-19/ https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20200330110138-284-488185/pentingnya-kelola-stres-saat-hadapi-wabah-corona https://psikologi.unair.ac.id/wp-content/uploads/2020/05/01-Tetap-Sehat-Mental-selama-Masa-Pandemi-COVID-19.pdf 
Muslim, M. (2020). Manajemen Stres Pada Masa Pandemi Covid-19. ESENSI: Jurnal Manajemen Bisnis,23.
Livana PH, M. F. (2020). Tugas Pembelajaran” Penyebab Stres Mahasiswa Selama Pandemi COVID-  19.Jurnal Ilmu Keperawatan Jiwa, 203-208.

0 komentar:

Posting Komentar

music new

bintang

Popular Posts

Recent Posts

Pages

Text Widget

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Oh

Widget Animasi

Mengenai Saya

Foto saya
Nama saya Wulan Daniah dilahirkan di Kota Kualasimpang Kabupaten Aceh Tamiang. Saya anak pertama dari dua bersaudara. Kini pendidikan yang saya tempuh adalah jurusan Psikologi Universitas Sumatera Utara.

Blogger templates

Halaman

Blogroll

Quarter Life Crisis          Hai kembali lagi dengan aku Wulan, hari ini aku pengen buat blog tema yang paling dikhawatirkan untuk usia dewa...

Popular Posts

Copyright © Wulan Daniah | Powered By Blogger | Published By Gooyaabi Templates
Design by Carolina Nymark | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com