[OPINI]
Ketidakberdayaan
Dan Resiko Perilaku Bunuh Diri Pada Anak Dan Remaja
(Helplessness And The Risk Of Suicidal Behavior In
Children And Adolescents)
Belakangan ini, kata perilaku bunuh diri
sudah tidak asing di telinga kita banyak dikabarkan kasus-kasus perilaku bunuh
diri ini yang melibatkan anak dan remaja tentunya. Sungguh sangat miris ketika
kita melihat perilaku anak dan remaja sangat buruk hingga detik ini, sebab anak
dan remaja adalah generasi penurus bangsa yang seharusnya memiliki cita-cita.
Tetapi inilah faktanya bahwa anak dan remaja pada zaman Generasi-Z sekarang ini mengambil keputusan (decision making) dengan cara instan, tanpa berpikir panjang apa
sebenarnya resiko bunuh diri tersebut.
Sebenarnya, banyak faktor perilaku bunuh
diri pada anak dan remaja yaitu adanya kejadian yang
menimbulkan stres, masalah hubungan anak dan orangtua, perceraian orangtua,
riwayat keluarga, penyakit kronis, sosial media dan putus cinta. Selanjutnya
kebanyakan anak dan remaja sulit untuk mengambil keputusan dengan bijak pada
dirinya ini merupakan salah satu gangguan secara psikologis yang memiliki
mental yang sangat minim pada diri anak dan remaja.
Well,
Perilaku bunuh diri merupakan spektrum
yang luas. Bunuh diri merupakan masalah kesehatan yang menjadi perhatian utama
di banyak negara terutama pada kelompok anak-anak dan remaja. Pada tahun 2012,
WHO mengungkapkan bunuh diri merupakan penyebab kematian nomor dua terbanyak
pada kelompok usia 15-29 tahun (WHO, 2016). Dan menurut WHO juga,
batasan usia anak adalah sejak anak di dalam kandungan sampai usia 19 tahun.
Remaja merupakan periode transisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang
ditandai dengan percepatan perkembangan fisik, mental, emosional, dan sosial.
WHO mengatakan remaja adalah bila anak telah mencapai umur 10-19 tahun.
Who?
Siapa yang bisa mengatasi kejadian atau peristiwa perilaku bunuh diri tersebut?
yang paling penting ditekankan ialah sudah sepantasnya remaja sudah menghargai
dan mencintai citra diri mereka atau harga diri mereka (self esteem) sehingga mereka lebih mensyukuri dan memahami diri
mereka sendiri. Lalu sebenarnya sangat penting pencegahan terkait tentang
ketidakberdayaan perilaku bunuh diri. Bunuh
diri ini sangat penting dan direkomendasikan untuk strategi pengembangan dan
penerapan penurunan angka bunuh diri salah satunya pihak-pihak yang berwajib
harus membuat kebijakan atau suatu program edukasi terkait tentang perilaku
bunuh diri agar dapat meminimalisir perilaku bunuh diri. Dan pada orang tua sudah saatnya bertindak dan
memberikan parenting ke mereka agar dapat lebih memahami diri dan
mencintai hidupnya.
Maka diri itu, sebenarnya penting sekali
bagi anak dan remaja untuk bisa menghargai realita di dunia nyata dengan
mensyukuri hidup dan tidak mengambil keputusan dengan cara instan. Syukuri
hidup, jangan takut depresi, hidup cuman sekali, dan katakan tidak pada bunuh
diri (self injury).

